|
|
|
|
Studi Alquran
Studi Alquran
Studi Alquran
| S1: |
Apa yang dimaksud dengan Pusat Studi Alquran? |
J1: |
Yaitu sebuah Lembaga Ilmu Pengetahuan di Kompleks Percetakan Al Quran di bawah wewenang Sekretaris Jenderal.
|
|
| S2: |
Kapan lembaga ini didirikan? |
J2: |
Lembaga ini didirikan pada tahun 1415 H. atas persetujuan Lembaga Tinggi Kompleks Percetakan, melalui keputusan nomor 5/1415 H.
|
|
| S3: |
Apa tujuannya? |
J3: |
Tujuan umum Lembaga ini adalah mencakup pelayanan studi Alquran dengan mengadakan penelitian dan studi-studi dalam bidang Alquran, memperbanyak proyek pembuatan referensi, semacam kamus yang berkaitan dengan Alquran, membersihkan tafsir dari unsur penyelewengan dan Israiliyat, dan menyelenggarakan muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi sekitar Ilmu Alquran.
|
|
| S4: |
Bagaimana struktur Lembaga ini? |
J4: |
Struktur Lembaga ini terdiri dari Bidang Administrasi dan Bidang Ilmiah, yang terdiri dari seorang direktur, wakil direktur, peneliti, juru tulis dan koresponden.Lembaga ini berusaha agar pondasi ilmiahnya menjadi semakin sempurna, yang selalu diupayakan oleh Majelis Lembaga, dan sejumlah unit penelitian, seperti bidang pelayanan studi Alquran, bidang ensiklopedia Alquran, bidang kajian tafsir, tahqiq (studi filologi) dan bidang studi Al Quran di kalangan orientalis.
|
|
| S5: |
Prestasi apa saja yang telah dicapai? |
J5: |
Banyak proyek-proyek yang digarap, sebagian telah rampung, dan sebagian yang lain masih dalam proses.
|
|
| S6: |
Proyek apa yang telah digarap? |
J6: |
Telah digarap proyek Tafsir Muyassar, dan Proyek Bibliografi Karya-karya Tafsir Alquran.
|
|
| S7: |
Apa yang dimaksud dengan Tafsir Muyassar? |
J7: |
Proyek ini sangat penting sekali, karena merupakan tafsir yang ringkas dan hanya merujuk kepada pendapat-pendapat yang akurat saja dengan sajian yang sederhana, tidak berbelit-belit, menampilkan makna tanpa penguraian panjang lebar dan tanpa pengulangan. Materi dan prinsip penafsirannya merujuk kepada metode para ulama salaf saleh (para pendahulu yang saleh) dan merupakan dasar bagi penerbitan Lembaga dalam terjemahan makna kitab Allah.
|
|
| S8: |
Apakah penyusunan Tafsir ini dilakukan oleh seorang ahli atau digarap oleh sebuah Tim? |
J8: |
Penggarapannya dilakukan oleh sebuah Tim yang terdiri dari para ahli tafsir, dengan cara pembagian tugas, setiap satu orang ahli mendapatkan bagian juz yang telah ditentukan untuk dikaji dan ditafsirkan.
|
|
| S9: |
Apakah penerbitannya dilakukan setelah seluruh anggota Tim menyelesaikan bagiannya masing-masing? |
J9: |
Bila masing-masing anggota Tim ini telah menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang telah ditentukan, pihak Lembaga mengumpulkan dan mengoreksi hasilnya. Koreksi ini dilakukan dengan amat teliti dan dilakukan beberapa kali, lalu dicetak di pinggir Mushaf Madinah dalam tiga ukuran, ukuran mesjid, ukuran biasa dan ukuran perdelapan.
|
|
| S10: |
Apa yang dimaksud dengan Proyek Bibliografi Karya-karya Tafsir Alquran? |
J10: |
Garapan ini adalah proyek penelitian besar. Idenya didasarkan pada induksi penjabaran Al Quran secara utuh, atau sebagian ayat ayat, surat-surat dan lafal-lafalnya, dengan catatan bahwa bahasa tulisan harus berbahasa Arab bukan bahasa-bahasa yang lain.
|
|
| S11: |
Apakah kitab ini disusun terbatas pada periode tertentu? |
J11: |
Penyusunan ini di mulai dari periode awal Islam hingga sekarang.
|
|
| S12: |
Mencakup bidang apa saja Proyek Bibliografi Karya-karya Tafsir? |
J12: |
Mencakup seluruh kitab-kitab tafsir dengan berbagai macam ukuran dan alirannya, serta beberapa karya atau tulisan yang termasuk dalam kajian ilmu-ilmu Alquran. Seperti: Buku-buku tentang Kata Sulit Alquran, Hukum-hukum Alquran, Segi-segi dan Padanan, buku-buku tentang Persesuaian antar ayat-ayat dan surah-surah, buku-buku tentang Penjelasan kata-kata mirip dalam Alquran, buku-buku Kemusykilan dalam Alquran, dan buku-buku Permisalan dalam Alquran.
|
|
| S13: |
Apakah penyusunan ini merupakan penutup kekurangan dalam kajian-kajian Alquran atau hanya sekadar pengulangan pekerjaan? |
J13: |
Diharapkan pekerjaan ini dapat menjadi penutup kekurangan di perpustakaan studi-studi Alquran, karena proses penyusunannya melalui metode ilmiah dalam meneliti informasi-informasi dan menyusunnya. Lain dari pada itu, dalam perpustakaan-perpustakaan Arab tidak diketemukan katalog yang memuat kitab-kitab tafsir disertai keterangan mana yang masih berbentuk manuskrip dan mana yang telah dicetak. Sedangkan dalam katalog yang telah ada sering kali ditemukan kesalahan nama pengarang sebuah kitab dan tahun wafatnya karena tidak adanya ketelitian dalam hal ini juga tidak disertakan pengklasifikasian setiap disiplin ilmu sesuai bidangnya.
|
|
| S14: |
Apa saja referensi yang dijadikan sumber dalam penyusunan bibliografi ini? |
J14: |
Dalam penyusunan bibliografi ini berdasarkan kepada kaidah pokok dan sumber utama yaitu Thabaqat Al Mufasirin (Tingkatan para ahli tafsir) karya Ad Dawudi, Mu'jam Al Mufasirin (Ensiklopedia Ahli Tafsir) karangan Adil Nuwaihidh ditambah dengan kitab Fahrasu As Syamil Li At Turats Al Arabi Al Islami Al Makhthuth, At Tafsir wa Ulumuh (Katalog Lengkap Manuskrip Khazanah Arab Islam, Tafsir dan Ilmunya). Juga merujuk kepada sejumlah besar referensi otobiografi dari berbagai periode dan dari beberapa negara, sampai mencapai sekitar 140 sumber.
|
|
| S15: |
Proyek apa yang sedang dalam proses penggarapan? |
J15: |
Lembaga ini mencetak buku-buku siap baca dan buku-buku manuskrip yang telah dikaji. Di antaranya ada yang telah dievaluasi ulang bahkan sudah diterbitkan seperti, kitab At Tharaz fi Syarhi Dhabthi Al Kharaz karangan At Tanasi (wafat tahun 899 H.). Sebagian lagi ada yang sedang dalam proses penerbitan seperti, kitab Mukhtashar At Tabyin li Hija'i At Tanzil, karangan Abu Daud Sulaiman bin Najah, dan ada pula yang masih dalam proses evaluasi dan editing.
Selain itu Lembaga ini juga sedang menggarap proyek penyusunan katalog manuskrip-manuskrip sekitar studi Alquran di Dunia.
Dan sedang membuat studi terhadap kitab Al Itqan fi Ulumi Al Qur'an karangan As Suyuthi.
|
|
| S16: |
Dalam bentuk apa proyek penyusunan katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di dunia? |
J16: |
Penyusunan ini mencakup seluruh manuskrip di dunia di bidang studi Alquran sejak abad pertama Hijriah hingga sekarang.
|
|
| S17: |
Apa tujuan proyek ini? |
J17: |
Proyek ini bertujuan untuk memastikan kebenaran bahwa manuskrip-manuskrip itu benar-benar dikarang oleh pengarangnya, dan untuk menutupi kekurangan penyusunannya, khususnya kitab-kitab yang tidak diketahui dengan pasti pengarangnya. Upaya ini belum pernah dilakukan oleh lembaga ilmiah manapun di dunia. Sedangkan upaya-upaya penyusunan sebagian buku ensiklopedia yang dilakukan oleh perseorangan seperti buku Tarikh Al Adab Al Arabi (Sejarah Sastra Arab), karangan Brockleman dan kitab Tarikh At Turats Al Arabi (Sejarah Khazanah Arab) belumlah dapat mencukupi.
|
|
| S18: |
Langkah-langkah apa yang ditempuh dalam penyusunan katalog ini? |
J18: |
Proyek ini —dengan izin Allah— akan dilakukan dalam tujuh langkah:
Pertama, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di Madinah Al Munawarah.
Kedua, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di Mekah Al Mukaramah.
Ketiga, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di kota Riyadh.
Keempat, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di seluruh Kerajaan Saudi Arabia selain Mekah, Medinah dan Riyadh.
Kelima, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di negara-negara Arab.
Keenam, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di dunia Islam.
Ketujuh, katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di dunia.
|
|
| S19: |
Apa saja hasil yang telah dicapai dalam proyek tersebut? |
J19: |
Untuk tahap pertama telah mulai dikerjakan, yaitu katalog manuskrip-manuskrip tentang studi Alquran di Madinah, dimulailah penyusunan katalog di perpustakaan Raja Abdul Aziz (dimulai dari perpustakaan Almarhum Syekh 'Arif Hikmat) dan di perpustakaan Mesjid Nabawi.
Telah disepakati untuk bekerjasama dengan dua orang pembantu yang siap bekerja menyusun manuskrip asli di perpustakaan Mekah Al Mukarramah.
|
|
| S20: |
Apakah Mushaf Alquran termasuk dalam garapan proyek ini? |
J20: |
Manuskrip mushaf Alquran tidak termasuk garapan proyek ini.
|
|
| S21: |
Melalui berapa tahapkah penggarapan proyek ini? |
J21: |
Menurut rencana proyek ini digarap dalam empat tahap:
- Mengumpulkan informasi dari naskah-naskah manuskrip yang asli.
- Melakukan pembuktian keaslian naskah manuskrip baik yang berbentuk kitab maupun piper kepada sumber yang dapat dipercaya.
- Mengecek ulang dan mempelajari informasi yang telah terkumpul.
- Memasukkan data-data yang telah terkumpul ke dalam komputer, dan siap untuk dicetak.
|
|
| S22: |
Apakah lembaga ini telah merencanakan sebuah proyek yang akan digarap kelak? |
J22: |
Benar, Ada beberapa pekerjaan kajian yang telah direncanakan untuk mulai dikerjakan, seperti melakukan studi terhadap beberapa rujukan kitab-kitab ilmu Alquran dan kitab-kitab tafsir, dan menyiapkan penggarapan kamus-kamus penting, serta penulisan hasil-hasil penelitian ilmiah.
|
|
| S23: |
Apakah Lembaga Studi Alquran mempunyai sarana khusus dan pendukungnya? |
J23: |
Benar, Lembaga ini mempunyai beberapa sarana yang dimaksudkan untuk melayani proyek-proyek yang sedang dan akan digarap pada masa-masa yang akan datang, seperti perpustakaan Lembaga sendiri yang menghimpun sejumlah besar sumber-sumber rujukan dalam bidang studi Alquran, ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab, biografi, sejarah, leksikografi dan ensiklopedia modern. Lembaga ini juga bekerja sama dengan sejumlah instansi dalam dan luar negeri Kerajaan Arab Saudi sesuai dengan bidangnya, dengan mengadakan koresponden dengan instansi-instansi tersebut agar bersedia membantu meningkatkan kualitas ilmiahnya, untuk mengevaluasi berbagai tulisan dan penelitian atau membekali Lembaga dengan apa yang dibutuhkan.
|
|
| S24: |
Apa yang dimaksud dengan Ilmu-ilmu Alquran? |
J24: |
Yaitu ilmu yang mencakup pembahasan yang menyeluruh dan penting yang berkaitan dengan Alquran dari berbagai segi. Seperti posisinya sebagai Alquran, petunjuk dan mukjizatnya. Kedua bidang tersebut dapat menjadi cabang ilmu tersendiri.
|
|
| S25: |
Kapan munculnya karya-karya tentang ilmu-ilmu Alquran sehingga menjadi cabang ilmu tersendiri dan sebutkan beberapa ulama yang menulis dalam bidang itu sejak kemunculannya hingga kini? |
J25: |
Penulisan buku ilmu Alquran dimulai pada abad ketiga Hijriah, oleh Haris bin Asad Al Muhasibi (wafat tahun 243 H.) yaitu kitab Fahmu Al Qur'an (Pemahaman Alquran), lalu disusul dengan kitab At Tanbih 'Ala Fadhli Ulumi Al Qur'an (Peringatan Akan Keutamaan Ilmu Alquran) yang dikarang oleh Ibnu Habib An Naisaburi (wafat tahun 406 H.) pada abad kelima Hijriah. Kemudian Abu Faraj Al Jauzi (wafat pada tahun 597 H.) dengan kitabnya Funun Al Afnan fi Ulumi Al Qur'an (Seni-seni Ilmu Alquran).
Pada abad ketujuh Hijriah Syekh Ilmu Ad Din Ali bin Muhammad As Sakhawi (wafat tahun 643 H.) mengarang sebuah kitab yang berjudul Jamalu Al Qurra' (Keindahan Para Qari'). Begitu juga Abdurrahman bin Ismail bin Ibrahim yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Samah (wafat tahun 665 H.) mengarang sebuah buku yang dinamai Al Mursyid Al Wajiz Ila Ulumin Tata'allaqu bil Kitabi Al 'Aziz.
Pada awal abad kedelapan banyak pengarang menulis tentang tema-tema ini, seperti Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah Zarkasyi (wafat tahun 794 H.) mengarang kitab yang sangat berharga dengan judul Al Burhan Fi Ulumil Qur'an, yang menyebutkan di dalamnya empat puluh tujuh macam ilmu Alquran. Juga Syaikhul Islam Taqiyudin Ahmad bin Taimiah (wafat 728 H.) mengarang buku kecil tentang dasar-dasar tafsir, buku ini sangat berharga sekali yang mencakup sebagian ilmu Alquran.
Pada abad kesembilan ilmu ini semakin berkembang. Muhammad bin Sulaiman Al Kafiji (wafat tahun 879 H.) mengarang sebuah kitab, seperti yang diakuinya tidak ada yang mendahuluinya. Pada abad ini juga Jalaludin Al Balqini (wafat 824 H.) mengarang kitab yang diberi judul Mawaqi'ul Ulum Min Mawaqi'i An Nujum yang menyebutkan di dalamnya lebih dari lima puluh macam ilmu Alquran.
Lalu datanglah Imam Suyuthi, mengarang sebuah kitab yang berjudul At Tahbir fi Ulumi At Tafsir. Tidak hanya berhenti sampai di situ, ia mengarang kitab yang diberi judul Al Itqan fi Ulumi Al Qur'an, di dalam kitabnya ini Suyuthi menyebutkan delapan puluh macam ilmu Alquran. Kitab ini merupakan rujukan terlengkap dalam bidang ilmu Alquran dan para generasi setelahnya menjadikannya sebagai rujukan utama hingga kini.
Selanjutnya, setelah Imam Suyuthi wafat aktifitas mengarang kitab tentang tema-tema ini mengalami kefakuman bahkan nyaris terhenti, kecuali ada beberapa karangan saja sampai tiba abad terakhir. Pada masa ini (abad terakhir) ilmu-ilmu Al Quran pun berkembang tidak hanya terbatas pada pembahasan-pembahasan ulama dahulu akan tetapi ditambah dengan kajian dan pembahasan lain. Seperti terjemah Alquran ke dalam bahasa-bahasa asing, kajian ini menimbulkan pro dan kontra antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Pada masa ini pula muncullah berbagai syubuhat yang dilontarkan kaum orientalis dan penulis-penulis modern, para pengikut mereka. Syubhat-syubhat ini mendapat bantahan keras dari para penulis yang ikhlas baik dalam bentuk buku maupun kumpulan tulisan. Hal ini tentunya turut memperkaya khazanah dan memperluas pembahasan dalam kajian Alquran dengan pembahasan yang baru.
Syekh Muhammad Khidhir Husain, salah seorang Syekh Azhar menulis sebuah buku sebagai bantahan terhadap karya Thaha Husain, As Syi'r al Jahili (Syair Jahiliah) yang menyebutkan tentang syubhat-syubhat dalam Alquran.
Karangan serupa ditulis juga oleh Syekh Muhammad Arafah yang berisikan tentang bantahan atas pikiran-pikiran Thaha Husain yang tertuang dalam materi-materi kuliah yang disampaikan pada ceramah-ceramah yang berkisar pada kritikan terhadap Alquran. Kitab itu diberi judul Naqdu Matha'ini Al Qur'an Al Karim (Kritik Terhadap Kritikan Alquran). Di antara karya-karya tentang Ilmu Alquran pada masa ini adalah kitab At Tibyan Li Ba'dhi Al Mabahis Al Muta'alliqah bil Qur'an (Penjelasan Terhadap Beberapa Kajian Tentang Alquran) karangan Syekh Thahir Al Jazairi, Kitab Manhajul Furqan fi Ulumi Al Qur'an (Metode Furqan Tentang Ilmu Alquran) karangan Syekh Muhammad Ali Salamah, Kitab Manahilu Al Irfan Fi Ulumi Al Qur'an (Sumber-sumber Pengetahuan Dalam Ilmu Alquran) karangan Syekh Muhammad Abdul Azhim Zarqani, Kitab Al Madkhal Li Dirasati Al Qur'an Al karim (Pengantar Studi Alquran) karangan Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah. Mahmud Abu Daqiqah salah seorang ulama Al Azhar juga menulis buku tentang ilmu-ilmu Al Quran dengan sajian yang sederhana. Selain itu masih banyak lagi buku-buku dan kajian-kajian lain tentang Ilmu Al Quran.
|
|
| S26: |
Bagaimana Alquran diturunkan kepada Nabi saw.? |
|
J26:
|
| Jibril mendengar Alquran langsung
dari Allah lalu diturunkan kepada Muhammad saw. Lafal saat diturunkannya
ada tiga macam:
- Turun dalam artian umum tanpa adanya pengkhususan. Seperti
firman Allah
وَأَنْزَلْنَا
الْحَدِيدَ
(Kami ciptakan besi) (Al Hadid: 25)
- Turun dalam artian terikat, turun dari langit mencakup turunnya
malaikat, siksaan, hujan dan lain sebagainya.
- Turun yang terikat bahwa turunnya dari Allah swt. Yang demikian
ini hanya khusus Alquran, seperti firman Allah: “Turunnya
Alquran yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan
semesta alam”. (As Sajdah: 2). Dan firman Allah: “Yang
diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Fushilat:
42)
|
|
| S27: |
Berapa lama Alquran diturunkan kepada Nabi saw.? |
J27: |
Alquran diturunkan kepada Nabi secara berkala selama dua puluh tiga tahun.
|
|
| S28: |
Apa hikmah diturunkannya Alquran secara berkala? |
J28: |
Hikmahnya banyak, di antaranya:
- Memperkokoh pendirian Nabi dan memperkuat hatinya dalam menghadapi turunnya wahyu dan tantangannya, memudahkan untuk menghafal dan memahaminya.
- Mendidik umat manusia baik teori maupun praktek secara bertahap, memudahkan menghafal dan memahami Alquran, sebagai langkah awal agar mereka meninggalkan akidah yang batil secara total dan menggantinya dengan berpegang teguh kepada akidah yang benar, memperkokoh hati orang-orang mukmin dengan menyebutkan kisah-kisah para nabi dan orang-orang saleh.
- Mengikuti setiap peristiwa baru yang berkembang dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, menjelaskan hukum suatu kasus dan peristiwa serta mengungkap kondisi-kondisi musuh baik dari golongan munafik atau yang lain.
- Menunjukkan akan sumber Alquran, bahwa Alquran adalah kalam Allah semata yang tersusun rapi saling berkaitan dan mengandung mukjizat. Sedangkan proses diturunkannya terpisah-pisah menurut peristiwa dan kejadian selama dua puluh tahun. Turun terpisah-pisah dan berkala akan tetapi kesemuanya tersusun rapi dan saling terkait, Alquran turun secara berkala sesuai dengan sebab-sebab, akan tetapi terkumpul susunannya dan sempurna masa turunnya dalam jangka waktu 23 tahun, serasi antara permulaan dan penutupnya. Semua itu menunjukkan kita kepada sumbernya yaitu Allah swt. Sebagaimana yang difirmankan: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An Nisa': 82)
|
|
| S29: |
Bagaimana cara mengetahui ayat Al Quran yang pertamakali dan terakhirkali diturunkan? |
J29: |
Permasalahan ini harus berdasarkan pada nukilan dari para sahabat atau tabi'in. Di sini akal tidak dapat berperan kecuali dengan melakukan tarjih atau dengan menggabungkan antara beberapa dalil yang secara lahirnya bertentangan.
|
|
| S30: |
Apa manfaat mengetahui awal dan akhir ayat Alquran yang diturunkan? |
|
J30:
|
| Pengetahuan itu akan mendatangkan
manfaat, di antaranya adalah:
- Mengetahui nasikh dan mansukh, yaitu jika terdapat
dua ayat atau lebih dalam satu masalah, di mana hukum salah
satunya berbeda dengan yang lain sehingga tidak dapat dipertemukan.
Maka yang demikian ini bisa diketahui bahwa yang terakhir
menghapus sebelumnya.
- Mengetahui Tarikh Tasyri' (sejarah penetapan hukum
Islam), seperti halnya kita mengetahui bahwa ayat-ayat yang turun
mengenai kewajiban salat diturunkan di Mekah sebelum hijrah, ayat
mengenai kewajiban zakat dan puasa diturunkan pada tahun kedua
setelah hijrah, dan ayat-ayat mengenai kewajiban haji diturunkan
pada tahun keenam setelah hijrah menurut pendapat yang paling kuat,
maka kita dapat menyusun sesuai dengan susunan yang ditentukan
oleh syariat, bahwa kewajiban pertama adalah salat, lalu zakat,
puasa kemudian haji. Begitu juga jika kita mengetahui bahwa ayat
yang berbunyi:
أُذِنَ
لِلَّذِينَ
يُقَاتَلُونَ
بِأَنَّهُمْ
ظُلِمُوا
Artinya: “Telah diizinkan (berperang)
bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah
dianiaya”. (Al Haj: 39) diturunkan pada tahun kedua Hijriah,
maka kita dapat mengetahui bahwa Jihad di syariatkan di Madinah
tahun kedua hijrah. Demikianlah syariat-syariat diperintahkan.
Mengetahui tahap-tahap penetapan hukum Islam sehingga mengetahui
hikmah Allah dalam mendidik sebuah masyarakat dengan cara yang
bijaksana. Seperti jika kita mengetahui urutan ayat yang
diturunkan mengenai larangan khamar (minuman keras). Begitu pula
bila kita mengetahui ayat-ayat mengenai seruan kepada tauhid
diturunkan lebih dahulu, dan ayat mengenai syariat secara
terperinci dan hukum-hukum praktis diturunkan setelahnya, maka
kita dapat mengetahui hikmah dalam pendidikan dan pensyariatan.
Jika kita tidak mengetahui ushul (pokok-pokok) yang dapat
menenangkan hati, tidaklah dengan mudah mengambil furu'(Cabang).
|
|
| S31: |
Ayat apakah yang pertama kali diturunkan? |
|
J31:
|
| Para ulama berselisih pendapat
tentang ayat Alquran pertama yang diturunkan secara mutlak. Secara umum
ada empat pendapat:
-
Pendapat pertama:
Bahwa ayat yang turun pertama kali adalah firman Allah yang
berbunyi:
اقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
الَّذِي
خَلَقَ(1)خَلَقَ
الْإِنْسَانَ
مِنْ
عَلَقٍ(2)اقْرَأْ
وَرَبُّكَ
الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي
عَلَّمَ
بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ
الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ
يَعْلَمْ(5)
 Artinya: Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al 'Alaq: 1-5).
Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim (lafaz hadis sesuai dengan riwayat Bukhari)
dengan sanad keduanya, dari Aisyah Ummul Mukminin ra. ia berkata:
Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar.
Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagaikan terangnya
Shubuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi
di gua Hira'. Di sana, beliau beribadah bermalam-malam, sebelum
kembali kepada keluarganya (istrinya). Untuk itu beliau membawa
bekal. Setelah beberapa hari, beliau pulang ke Khadijah guna
mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal itu terus beliau
lakukan, sampai tiba-tiba wahyu datang, ketika beliau sedang
berada di gua Hira'. Malaikat (Jibril as.) datang dan berkata:
Bacalah. Beliau menjawab: Aku tidak dapat membaca. Rasulullah saw.
bersabda: Malaikat itu menarik dan mendekapku, hingga aku merasa
kepayahan. Lalu dia melepaskanku seraya berkata: Bacalah. Aku
menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dia menarik dan mendekapku lagi,
hingga aku merasa kepayahan. Kemudian dia melepaskan sambil
berkata: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dan untuk
yang ketiga kalinya dia menarik dan mendekapku sehingga aku merasa
kepayahan, lalu dia melepaskanku dan berkata:
اقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
الَّذِي
خَلَقَ
خَلَقَ
الْإِنْسَانَ
منْ عَلَقٍ
اقْرَأْ
وَرَبُّكَ
الْأَكْرَمُ
الَّذِي
عَلَّمَ
بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ
الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ
يَعْلَمْ
 Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu
Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, yang mengajar
manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak dia ketahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam pulang ke rumah Khadijah dalam keadaan gemetar, seraya
berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku! Keluarganya pun
menyelimutinya, sehingga perasaan takutnya hilang. Kemudian beliau
berkata kepada Khadijah: Hai Khadijah, apa yang telah terjadi
denganku? Lalu beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau
berkata: Aku benar-benar khawatir terhadap diriku. Khadijah
menghibur beliau: Jangan begitu, bergembiralah. Demi Allah, Allah
tidak akan merendahkanmu selamanya. Demi Allah, sungguh engkau
telah menyambung tali persaudaraan, engkau selalu jujur dalam
berkata, engkau telah memikul beban orang lain, engkau suka
mengusahakan kebutuhan orang tak punya, menjamu tamu dan
senantiasa membela kebenaran.
-
Pendapat kedua:
Ayat pertama yang diturunkan adalah firman Allah yang berbunyi:
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ(1)قُمْ
فَأَنْذِرْ(2)وَرَبَّكَ
فَكَبِّرْ(3)وَثِيَابَكَ
فَطَهِّرْ(4)وَالرُّجْزَ
فَاهْجُرْ(5)
 Artinya: “Hai orang yang berkemul
(berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu
agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah
berhala) tinggalkanlah”. (Al Mudatsir: 1-5). Pendapat ini
diperkuat oleh sebuah hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin
Abdullah dan Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf.Dalil dari
pendapat ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua syekh (Bukhari
dan Muslim), dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Aku bertanya
kepada Abu Salamah bin Abdurrahman: Ayat Alquran apakah yang
pertama kali diturunkan. Ia menjawab:
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ
 Aku berkata: “Aku menerima kabar
bahwa yang pertama kali turun adalah
اقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
الَّذِي
 Abu Salamah berkata: Aku telah
bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang ayat Alquran yang
pertama kali diturunkan, ia menjawab:
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ
 Aku pun berkata: Aku mendapatkan
kabar bahwa yang pertama kali turun adalah
اقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
الَّذِي
خَلَقَ
 Ia berkata: Aku tidak menyampaikan
kabar kepadamu kecuali dari ucapan Rasulullah saw: Aku sedang
bertahannus (menyendiri) di Gua Hira', ketika aku sudah selesai,
aku turun ke lembah, lalu aku mendengar suara memanggil, aku
melihat ke depan, menengok ke belakang, menoleh ke samping kanan
dan kiri, aku melihat dia (malaikat Jibril) duduk di atas
singgasana antara langit dan bumi. Maka aku segera pulang ke
keluargaku (Khadijah), aku berkata: Selimutilah aku dan
tuangkanlah untukku air dingin, maka turunlah wahyu kepadaku:
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ(1)قُمْ
فَأَنْذِرْ(2)وَرَبَّكَ
فَكَبِّرْ
 Artinya: “Hai orang yang berkemul
(berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu
agungkanlah”. (Al Mudatsir: 1-3). Pendapat ini dapat dibantah
dengan, bahwa ayat itu adalah ayat yang pertama turun setelah masa
jeda dari turun wahyu, atau bahwa pertanyaan itu tentang turunnya
surat dengan lengkap, dan memang surat Mudatsir diturunkan dengan
lengkap sebelum surat Al Alaq turun secara lengkap.
Sedangkan awal surat Al 'Alaq jelas merupakan ayat pertama yang
diturunkan.
-
Pendapat ketiga:
Bahwa yang pertama kali diturunkan adalah surat Al Fatihah.
Pendapat ini, oleh Zamakhsyari dalam tafsirnya, dinisbahkan kepada
sebagian besar ahli tafsir. Ibnu Hajar membantah pendapat
Zamakhsyari, bahwa pendapat ini hanya diungkapkan oleh sebagian
kecil ahli tafsir.
Pendapat ini merujuk kepada riwayat Baihaqi dalam kitab Fi
Dala'ili An Nubuwah (Bukti-bukti Kenabian), dan Al Wahidi, dari
Abu Muyasarah Amru bin Syurahbil bahwa Rasul saw. berkata kepada
Khadijah: Ketika aku sedang menyendiri, aku mendengar seruan, demi
Allah aku khawatir bahwa yang demikian ini akan mendatangkan suatu
perkara. Khadijah berkata: Aku berlindung kepada Allah, sekali-kali
Allah tidak akan menimpakan keburukan kepadamu. Demi Allah, sungguh
engkau telah mengemban amanat dengan baik, menyambung silaturahmi,
dan berkata jujur. Ketika Abu Bakar datang, ia menuturkan kisah
Muhammad itu kepadanya, lalu berkata: Pergilah dengan Muhammad
kepada Waraqah (Waraqah bin Naufal). Keduanya berangkat menuju
Waraqah dan menceritakan semua yang dialami. Muhammad berkata:
“Ketika aku menyendiri, aku mendengar seruan dari belakangku:
Wahai Muhammad, wahai Muhammad..”, aku lari meninggalkan seruan
itu. Waraqah berkata: “Janganlah engkau bertindak seperti itu,
jika nanti datang kepadamu, tegarlah sampai kamu mendengar kemudian
datanglah kemari dan ceritakan kepadaku”. Ketika sedang menyendiri
terdengarlah suara panggilan: Wahai Muhammad, katakanlah
بِسْمِ
اللَّهِ
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ(1)الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ(2)الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ(3)مَالِكِ
يَوْمِ
الدِّينِ(4)إِيَّاكَ
نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ(5)اهْدِنَا
الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ(6)صِرَاطَ
الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ
عَلَيْهِمْ
غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ
وَلَا
الضَّالِّينَ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari
pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan, Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula
jalan) mereka yang sesat. (Al Fatihah: 1-7).
Pendapat ini dapat dibantah dengan mengatakan bahwa hadis
tersebut adalah hadis mursal, sekalipun para perawinya tsiqat
(terpercaya) dan ia tidak dapat menandingi hadis marfu' yang
diriwayatkan Aisyah radhiallahu anha. Pendapat pertama adalah yang
paling kuat.
-
Pendapat ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Al
Wahidi dengan sanadnya disandarkan kepada Ikrimah dan Hasan, mereka
berkata: Wahyu pertama yang diturunkan adalah
بِسْمِ
اللَّهِ
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
dan awal surat
اقْرَأْ
بِاسْمِ
رَبِّكَ
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
lainnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Wahyu pertama yang diturunkan
oleh Jibril kepada Nabi saw. adalah ucapan Jibril: Wahai Muhammad
bacalah Auzu Billah, aku berlindung kepada Allah. Lalu Jibril
berkata:
بِسْمِ
اللَّهِ
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
Pendapat ini dibantah oleh Suyuti, ia
berkata: Menurutku hal itu tidak dapat dianggap sebagai alasan, oleh
karena turunnya surat memang selalu disertai dengan basmalah yang
merupakan awal surat setiap wahyu turun. Dr. Muhammad Abu Syuhbah,
dalam bukunya Al Madkhal menanggapi alasan pendapat di atas,
ia berkata: Alasan di atas tidak dapat diterima karena hadis-hadis
shahih tentang turunnya wahyu pertama, yaitu hadis Aisyah dan hadis
lainnya tidak pernah dijumpai turunnya basmalah pada permulaannya.
Hadis tentang turunnya basmalah ini adalah hadis mursal.
|
|
| S32: |
Ayat apakah yang terakhir kali diturunkan? |
|
J32:
|
| Tidak ada hadis-hadis tentang hal
itu yang sanadnya sampai ke Nabi saw. akan tetapi yang ada adalah
riwayat dari beberapa sahabat dan tabiin, yang mereka simpulkan dari
apa-apa yang mereka lihat berkenaan dengan turunnya wahyu, dan isyarat
dari beberapa peristiwa yang terjadi, di mana sebagian mereka tidak
mendengar sebagaimana yang telah didengar sebagian yang lain. Sebagian
melihat dan yang lain tidak. Oleh karena itu terjadilah perselisihan
pendapat di antara ulama salaf (terdahulu) mengenai wahyu terakhir yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Maka muncullah pendapat-pendapat
yang semakin meluas:
- Pendapat pertama:
Wahyu pertama yang diturunkan adalah, surat terakhir dari Al
Baqarah ayat 281:
وَاتَّقُوا
يَوْمًا
تُرْجَعُونَ
فِيهِ
إِلَى
اللَّهِ
ثُمَّ
تُوَفَّى
كُلُّ
نَفْسٍ مَا
كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا
يُظْلَمُونَ
Artinya: “Dan peliharalah dirimu
dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua
dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi
balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya,
sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)“. Pendapat
ini adalah yang paling kuat dibanding dengan pendapat-pendapat
yang lainnya. Pendapat ini didukung oleh hadis-hadis berikut:
- Riwayat Nasai, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Wahyu
terakhir yang diturunkan adalah
وَاتَّقُوا
يَوْمًا
تُرْجَعُونَ
فِيهِ
إِلَى
اللَّهِ
“Dan peliharalah dirimu dari (azab
yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua
dikembalikan kepada Allah”.
-
Pendapat ini diperkuat dengan sebuah riwayat dari Bukhari, dari
Ibnu Abbas, ia berkata: Ayat terakhir yang turun kepada Nabi adalah
ayat riba.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi, dari Umar hadis seperti itu. Yang
dimaksud dengan ayat riba adalah ayat yang telah disebutkan di atas.
Bantahan pendapat ini adalah, bahwa ayat tersebut merupakan ayat
terakhir mengenai riba.
-
Pendapat ketiga:
Ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat tentang piutang,
yaitu firman Allah:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
إِذَا
تَدَايَنْتُمْ
بِدَيْنٍ
إِلَى
أَجَلٍ
مُسَمًّى
فَاكْتُبُوهُ
 “Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”.(Al Baqarah: 282),
ayat ini merupakan ayat terpanjang dalam Alquran. Alasan dari
pendapat ini adalah riwayat dari Abu Ubaid dalam kitabnya Fadhailu
Al Qur'an (Keutamaan Alquran), dari Ibnu Syihab Az Zuhri, ia
berkata: Bagian Alquran terakhir yang ada di Arsy adalah ayat riba
dan ayat piutang. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari jalur Ibnu
Syihab, dari Said bin Musayyab, bahwa telah sampai kepadanya,
“Bagian Alquran yang terakhir ada di Arsy adalah ayat riba dan
piutang”. Hadis ini adalah hadis mursal dan sanadnya
sahih.
-
Pendapat keempat:
Ayat terakhir yang diturunkan adalah firman Allah:
يَسْتَفْتُونَكَ
قُلِ
اللَّهُ
يُفْتِيكُمْ
فِي
الْكَلَالَةِ
 “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang
kalalah). Katakanlah: Allah memberikan fatwa kepadamu tentang
kalalah”. (An Nisa': 176). Dan surat terakhir yang turun adalah
surat Baraah.
Alasan dari pendapat ini adalah riwayat Bukhari dan Muslim, dari
Barra' bin Azib, ia berkata: Surat terakhir yang diturunkan adalah
Baraah, dan ayat terakhir yang diturunkan adalah,
يَسْتَفْتُونَكَ
قُلِ
اللَّهُ
يُفْتِيكُمْ
فِي
الْكَلَالَةِ.

Bantahan untuk pendapat ini adalah bahwa surat Baraah adalah
wahyu terakhir mengenai perang dan jihad.
-
Pendapat ini diperkuat oleh hadis riwayat Bukhari dan lainnya,
dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ayat ini
وَمَنْ
يَقْتُلْ
مُؤْمِنًا
مُتَعَمِّدًا
فَجَزَاؤُهُ
جَهَنَّمُ
خَالِدًا
فِيهَا
adalah ayat terakhir yang diturunkan,
dan tidak dihapus sedikit pun”.
Pendapat ini dapat dibantah bahwa ayat ini adalah ayat terakhir
tentang hukum membunuh orang mukmin dengan sengaja.
Selain itu masih banyak pendapat-pendapat lain tentang wahyu
terakhir yang diturunkan.
|
|
| S33: |
Apa yang dimaksud dengan Asbabun nuzul? |
J33: |
Asbabun nuzuladalah sesuatu yang terjadi pada saat turun ayat atau beberapa ayat, lalu ayat atau beberapa ayat itu berbicara atau menerangkan tentang hukumnya.
|
|
| S34: |
Bagaimana cara mengetahuinya? |
J34: |
Tidak ada jalan lain untuk mengetahui sebab-sebab turun, kecuali dengan mengambil dengan benar dari mereka yang langsung menyaksikan penurunan wahyu dan tahu sebab-sebabnya, seperti sahabat-sahabat Nabi saw., atau dari orang yang mengkaji ilmu-ilmunya, seperti para ahli tafsir yang mengambil dari para sahabat itu.
|
|
| S35: |
Apa manfaat mengetahuinya? |
J35: |
Banyak manfaat yang dapat diambil, di antaranya adalah:
- Membantu memahami ayat dan untuk menghindari kesulitannya.
- Menghindari anggapan bahwa sebuah ayat itu terbatas pada hal-hal tertentu, seperti yang tampak pada lahirnya. Karena yang dijadikan pegangan hukum adalah keumuman lafaznya bukan kekhususan sebabnya
- Mengetahui kepada siapa ayat itu diturunkan, sehingga tidak keliru dengan orang lain yang dampaknya akan fatal, sehingga seorang yang tidak bersalah bisa menjadi tertuduh dan yang bersalah menjadi bebas.
- Mempermudah menghafal dan memahami Alquran.
|
|
| S36: |
Apa definisi Makiah dan Madaniah? |
J36: |
Para ulama mempunyai tiga definisi:
- Makiah adalah ayat-ayat Alquran yang diturunkan sebelum hijrah meskipun turunnya di luar Mekah. Sedangkan Madaniah adalah yang diturunkan setelah hijrah meskipun turunnya di Mekah. Inilah pendapat yang paling akurat dan paling masyhur menurut para ahli.
- Makiah adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekah, meskipun diturunkan setelah hijrah. Sedangkan Madaniah adalah yang diturunkan di Madinah.
- Makiah adalah seruan kepada penduduk kota Mekah. Sedangkan Madaniah merupakan seruan untuk penduduk Madinah.
|
|
| S37: |
Bagaimanakah awal mula ide pengumpulan Alquran pada zaman Abu Bakar ra.? |
J37: |
Ketika banyak para sahabat gugur khususnya mereka yang hafal Alquran dalam peperangan melawan orang-orang murtad dan peperangan lainnya, kaum muslimin merasa khawatir, maka Umar bin Khathab mengadukannya kepada Abu Bakar, dan mengusulkan agar mengumpulkan dan menyatukan lembaran-lembaran Al Quran yang telah tertulis seluruhnya pada masa Rasulullah yang sebelumnya masih terpencar-pencar karena dikhawatirkan akan hilang bersama hafalan para hufaz. Semula Abu Bakar merasa ragu untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah itu. Akan tetapi Umar terus meyakinkan bahwa tindakan seperti ini adalah benar, bahkan merupakan salah satu sarana yang bermanfaat untuk menjaga kitab Alquran dan untuk menjaganya dari kemusnahan dan penyelewengan, dan bukanlah tindakan bidah yang dilarang.
|
|
| S38: |
Bagaimana cara Abu Bakar mengumpulkan Alquran? |
J38: |
Untuk melaksanakan tugas ini Abu Bakar memilih salah seorang sahabat pilihan, yaitu Zaid bin Tsabit ra. seorang penghafal dan pencatat wahyu Rasulullah, ia menyaksikan simakan Alquran yang terakhir, di akhir hayat Rasul saw. Ia dikenal sebagai orang yang konsekwen dalam agamanya, memegang amanah, sangat wara', dan cerdas. Sebagaimana Abu Bakar, pada mulanya Zaid pun ragu dengan proyek ini akan tetapi lama kelamaan ia pun menjadi yakin. Maka mulailah Zaid mengumpulkan lembaran-lembaran Al Quran di bawah arahan Abu Bakar, Umar dan pemuka-pemuka sahabat yang lain sampai selesai dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
|
|
| S39: |
Apa dasar-dasar yang ditetapkan oleh Abu Bakar dalam penulisan Mushaf? |
J39: |
Dalam pengumpulan Alquran Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar menjadikan apa yang ditulis langsung dari Rasulullah sebagai rujukan utama dan diperkuat dengan hafalan para hufaz. Disebutkan dalam kitab Fathul Bari
Alquran telah tertulis seluruhnya pada masa Nabi saw. hanya saja belum terkumpul dan tersusun dalam satu tempat. Dalam hal ini Zaid berkata — sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari di sebuah hadis yang panjang — : Aku meneliti Al Quran secara seksama dengan mengumpulkannya dari apa yang tertulis pada lembaran pelepah-pelepah kurma dan lempengan batu-batu tulis serta dari hafalan para hufaz. Dengan dasar-dasar inilah Alquran dapat terkumpul di bawah bimbingan Abu Bakar, Umar dan para pemuka sahabat serta ijma' (konsensus) umat pada saat itu tanpa ada seorang pun yang membantahnya. Mushaf ini disimpan oleh Abu Bakar, setelahnya disimpan oleh Umar bin Khathab dan selanjutnya disimpan oleh Umu Al Mukminin, Hafshah binti Umar sepeninggalan ayahnya. Mushaf inilah yang dijadikan standar oleh Usman bin Affan dalam menyalin mushaf dan dikirimkan ke wilayah-wilayah.
|
|
| S40: |
Apa yang mendorong Usman ra. menyalin Mushaf dan mengirimkannya ke beberapa wilayah? |
J40: |
Pada masa Usman bin Affan ketika wilayah penaklukan semakin luas dan umat Islam tersebar di wilayah-wilayah, sementara itu umat Islam di setiap wilayah mengikuti qiraat sahabat yang terkenal yang tinggal dengan mereka. Di antara mereka telah terjadi perbedaan huruf bacaan dan qiraat. Melihat kenyataan itu Hudzaifah bin Yaman melaporkan kepada khalifah Usman bin Affan. Ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin bertindaklah terhadap umat ini sebelum mereka berselisih tentang kitabnya sebagaimana halnya perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Berkat kecerdasannya Usman segera mengambil tindakan dengan mengumpulkan pemuka-pemuka sahabat untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, maka mereka dengan suara bulat memutuskan untuk menyalin mushaf dan mengirimkannya ke beberapa wilayah, dan memerintahkan agar membakar mushaf selainnya dan agar tidak berpegang kepada mushaf lainnya.
|
|
| S41: |
Bagaimana cara Usman melaksanakan keputusan itu? |
J41: |
Keputusan yang bijaksana ini dilaksanakan Usman pada akhir tahun 24 dan awal tahun 25 H. Proyek ini dipercayakan kepada beberapa sahabat yang mumpuni dan hafiz, mereka itu adalah, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdurrahman bin Haris. Tiga sahabat yang terakhir ini berasal dari suku Quraisy.
Maka Utsman mengirim seorang utusan kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar untuk mengambil kumpulan Al Quran yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Lalu tim ini menyalin mushaf itu dengan dasar aturan yang telah ditetapkan oleh para sahabat.
|
|
| S42: |
Apa keistimewaan Mushaf Usman? |
J42: |
Kelebihannya adalah:
- Terbatas dengan yang riwayatnya mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang, kebohongannya mustahil) saja tanpa memasukkan yang riwayatnya ahad (yang diriwayatkan hanya satu orang).
- Tidak memasukkan bacaan yang telah dinasakh (dihapus) dan tidak diperdengarkan pada simakan terakhir.
- Surat dan ayat-ayatnya sudah tersusun rapi seperti yang kita lihat pada mushaf sekarang. Berbeda dengan mushaf Abu Bakar yang susunannya diurut sesuai dengan urutan ayat tanpa susunan surat.
- Penulisannya mencakup qiraat yang berbeda-beda dengan huruf-huruf yang tidak diberi titik dan harakat sebagaimana Al Quran diturunkan, dan membagi berbagai macam qiraat ke dalam mushaf jika tidak memungkinkan ditulis dengan satu rasam
- Mengeluarkan apa saja selain Alquran, seperti catatan-catatan yang ditulis oleh sebagian sahabat pada mushaf-mushaf pribadinya sebagai keterangan makna, keterangan nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.
|
|
| S43: |
Apa yang dimaksud dengan tafsir bil ma'tsur, disertai dengan contoh-contohnya? |
|
|
| S44: |
Siapa ahli tafsir yang masyhur di kalangan sahabat? |
J44: |
Di antara sahabat terdapat sepuluh sahabat yang ahli dalam bidang tafsir: empat khalifah rasyidin, Ibnu Abbas, Ibnu Masud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al Asy'ari dan Abdullah bin Zubair.
|
|
| S45: |
Siapa ahli tafsir yang masyhur di kalangan Tabi'in? |
J45: |
Penafsir terkenal di kalangan tabiin adalah:
Mekah: Mujahid, Atha‘ bin Abi Rabah, Ikrimah budak Ibnu Abbas, Said bin Jubair dan Thawus.
Medinah: Zaid bin Aslam, Abu Aliah, Muhammad bin Kaab Al Qurdhi.
Irak: Masruq bin Ajda', Qatadah bin Di'amah, Hasan Basri, Atha' bin Abi Muslim Al Khurasani dan Murrah Al Hamdani Al Kufi.
|
|
| S46: |
Apa yang dimaksud dengan mukjizat Alquran? |
J46: |
Maksudnya adalah bahwa manusia dan jin tidak dapat meniru persis seperti Alquran atau sepuluh surat seperti Alquran, atau satu surat seperti surat Alquran setelah mereka ditantang oleh Nabi saw. hal ini tentunya membuktikan bahwa Alquran datang dari Allah.
|
|
| S47: |
Apa bentuk-bentuk mukjizat Alquran? |
J47: |
Di antara sisi mukjizat Alquran adalah:
Mukjizat dari sisi bahasa: Yaitu berupa susunan kata-kata dalam Al Quran dari satu sisi dan pemilihan setiap kata itu sendiri di sisi lain juga susunan kalimat dan ayat dalam satu surat. Seorang yang mempunyai naluri bahasa dengan mudah akan mengetahui tanpa keterangan dan petunjuk orang lain. Sedangkan yang tidak mempunyai naluri bahasa, baik orang Arab maupun lainnya dapat mengetahui dengan penafsiran makna Alquran. Setiap kata dalam Al Quran sudah dipilih dengan cermat, ungkapannya merupakan ungkapan yang paling fasih dan paling benar, selektif dalam memilih kata-kata, meletakkannya di satu tempat tanpa meletakkannya di tempat lain, mendahulukannya di satu tempat dan mengakhirkannya di tempat lain, menyebutnya di satu tempat tanpa menyebutnya di tempat lain, menyebutkan kalimat tertentu tanpa menyebutkannya di tempat lain, semua itu adalah mukjizat.
Bahasa Alquran tidak terlepas dari apa yang telah diketahui oleh bangsa Arab, kosa katanya, struktur, dan kaidah-kaidah umumnya, kesemuanya sesuai dengan yang telah diketahui oleh bangsa Arab. Di sinilah letak kemukjizatannya, meskipun semuanya telah diketahui oleh mereka sedangkan mereka telah mencapai puncak kematangan bahasanya, akan tetapi tetap saja tidak mampu menyamainya. Jika saja Alquran tidak mempergunakan apa yang telah diketahui oleh mereka maka tentu saja mereka mendapatkan alasan untuk tidak dapat meniru dan menyamainya, maka akan membuka peluang untuk kritikan dan ejekan. Allah berfirman: “Dan jikalau Kami jadikan Alquran itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dayat-ayatnya?”. Apakah (patut Alquran) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab?”. (Fushilat: 44)
Mukjizat tentang yang gaib:
- Tentang umat-umat terdahulu:
Allah memberikan kabar melalui wahyu yang diturunkan kepada utusan-Nya tentang kisah umat-umat terdahulu, baik berupa nikmat yang diberikan atau azab yang ditimpakan kepada mereka. Dan Allah menyebutkan sejarah Ahli Kitab sesuai dengan apa yang tertera dalam kitab mereka, meluruskan kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka, dan memberikan keterangan yang banyak tentang apa-apa yang mereka sembunyikan dari kitab mereka.
Mukjizat Alquran dalam hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Rasul saw. adalah buta huruf dan ini diakui (disepakati) oleh orang-orang yang mencintainya dan orang-orang yang membencinya. Beliau tidak pernah membaca kitab pendahulunya, tidak pernah berguru mendengarkan kisah-kisahnya, Allah berfirman: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al Ankabut: 48-49).
Disebutkan pula dalam firman Allah pada penutup kisah Yusuf as.: “Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya”. (Yusuf: 102)
Dalam kisah Maryam Allah berfirman: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa”. (Al Imran: 44).
Firman Allah: “Sesungguhnya Alquran ini menjelaskan kepada Bani Israel sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (An Naml: 76).
Di dalam ayat lain Allah berfirman: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (Al Maidah: 15-16).
- Kabar Alquran tentang perkara-perkara gaib yang akan datang.
Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran yang memberitakan perkara-perkara yang belum terjadi dan semuanya terbukti sesuai dengan apa yang telah diberitakan Al Quran, tidak ada satu pun yang meleset. Di antaranya adalah:
- Firman Allah: “ Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”. (Al Imran: 12). Apa yang telah dikabarkan Alquran benar-benar terjadi, orang-orang Yahudi yang takabur dapat terkalahkan dengan kemenangan umat Islam pada perang Badar, mereka pun terhinakan.
- Firman Allah: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al Maidah: 67). Allah telah menenangkan hati Rasul saw. dari gangguan manusia, menggagalkan orang-orang yang berusaha membunuhnya. Orang-orang Yahudi dan munafik selalu berusaha untuk membunuhnya dan telah mencobanya lebih dari sekali, akan tetapi Allah menjaga nabi-Nya dari mereka.
- Firman Allah: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (Al Qamar:45). Ayat ini diturunkan di Mekah dan merupakan ancaman bagi penduduk Mekah akan nasib mereka pada perang Badar. Diriwayatkan oleh Umar bin Khathab, ia berkata: “Aku tidak mengetahui maksud al jam'u (golongan) sebagaimana yang disebutkan dalam ayat melainkan ketika perang Badar”.
- Firman Allah: “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)”. (Ar Rum: 1-4). Allah telah mengembalikan kemenangan kepada bangsa Romawi dalam waktu yang relatif singkat, antara tiga sampai sembilan tahun. Berita dari Allah ini menjadi kenyataan selang beberapa waktu saja.
|
|
| S48: |
Apa definisi nasakh secara terminologi? |
J48: |
Nasakh adalah menghapuskan suatu hukum syar'i dengan dalil syar'i yang lain.
|
|
| S49: |
Apa syarat-syarat nasakh yang telah disepakati? |
J49: |
Syaratnya ada empat:
Pertama, al mansukh (yang dihapus) harus hukum syar'i.
Kedua, an nasikh (yang menghapus) harus dalil syar'i.
Ketiga, hendaknya dalil yang menghapus bertentangan dengan dalil hukum yang dihapus dan tidak ada kaitannya.
Keempat, harus ada pertentangan antara dalil nasikh dan dalil mansukh.
|
|
| S50: |
Adakah contoh nasakh Alquran dengan Alquran? |
J50: |
Ada, yaitu firman Allah: “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain)”. (Al Ahzab: 52). dinasakh dengan firman Allah: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin”. (Al Ahzab: 50).
Nasakh ini diberlakukan karena terdapat hikmah dan maslahat. Ilmu Allah menjangkau apa yang telah, akan dan sedang terjadi, tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi dari ilmu Allah.
|
|
| S51: |
Kita temukan dalam Mushaf Madinah Nabawiyah, riwayat Warasy, dari Nafi‘ Al Madani, satu titik di bawah huruf Fa’ dan satu titik di atas huruf Qaf, apa maksudnya? |
J51: |
Sebagaimana diketahui bahwa Al Quran pada mulanya tidak memiliki tanda titik dan harakat. Hal ini terus berlangsung sampai suatu ketika dibutuhkan titik dan harakat tersebut. Karena Mushaf riwayat Warasy dari Nafi‘ Al Madani cetakan Kompleks ditujukan kepada kaum Muslimin yang terbiasa membaca Alquran dengan riwayat ini dan mereka terbiasa dengan sistem ortografi Maghrib, Kompleks mempergunakan kaligrafi Masyriq dengan sistem ortografi Maghrib untuk memudahkan umat Islam dan meringankan mereka saat membaca. Orang-orang Maghrib meletakkan satu titik di bawah huruf Fa’, dan satu titik di atas huruf Qaf. Demikianlah peletakan tanda huruf pada mushaf riwayat Warasy. Adapun orang-orang Masyriq mempunyai tanda yang berbeda, mereka memberi tanda satu titik di atas huruf Fa’ dan dua titik di atas huruf Qaf.
Oleh karena itu Imam Abu Amru Ad Dani dalam kitabnya, Al Muhkam fi Nuqatil Mashahif, mengatakan, “Orang-orang Masyriq (Timur) menandai huruf Fa’ dengan satu titik di atasnya dan huruf Qaf dengan dua titik di atasnya, sedangkan orang-orang Maghrib (Barat) menandai huruf Fa’ dengan satu titik di bawahnya dan huruf Qaf dengan satu titik di atasnya. Kesemuanya bertujuan membedakan antara kedua huruf.” |
|
|
Lalu Halaman 8 / 9 Berikut
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
No banner in farm
|
|
|
|
|
|
|